Tags

, ,

Ini settingannya tuh pas gw masih ikut kelas IELTS untuk persiapan ke UK.

Selama sebulan, kami harus les persiapan IELTS di Depdiknas, sebelah Ratu Plaza. Peserta kelas gw cuma dikit: gw, Tika, Mbak Iis, Mas Wipsar, Mas Imin, Mbak Anta, Doan (mudah-mudahan gak ada yang kurang).

Pada suatu ketika, kami ingin melepas lelah setelah belajar IELTS dengan pergi ke Ratu Plaza. Gak semuanya, tapi cuma gw, Mbak Anta dan Doan. Bertiga lah kami pergi ke sana. Secara gak sengaja, formasinya kayak baris gitu: satu lajur, dengan gw paling depan, disusul Mbak Anta dan Doan.

Gw seperti biasa bawa ransel. Dan seperti biasa juga, gw bawa ranselnya di depan. Gak di punggung seperti semestinya. Gw emang suka kebawa kebiasaan naik kereta ke Depok dulu, bawa ransel di depan biar gak kecopetan di belakang. Lagian gw ngerasa kalau bawa ransel di depan tuh tas jadi gak kerasa sebegitu beratnya.

Jadilah gw bawa ransel itu di depan, dalam perjalanan dari Depdiknas ke Ratu Plaza di sebelahnya.

Pas di parkiran, secara nggak sengaja gw nengok ke ‘pasukan’ gw yang ada di belakang, Mbak Anta dan Doan. Begitu nengok, gw langsung berhenti dan ngakak sejadi-jadinya.

Mengapa? Karena mereka niruin gaya gw dan bawa ransel di depan!

Huahuahuahua! Gw langsung berasa kayak bawa rombongan drumband!

Selidik punya selidik, ternyata Mbak Anta -yang kerja di Kalimantan- dan Doan -yang kerja di Papua- mengira kalau membawa ransel di depan adalah part of style warga Jakarta dalam menggendong ransel.

Dweeengg… Gw langsung ngakak sejadi-jadinya sampai berurai air mata.

Lantas gw ibarat pengamat mode meluruskan keliaran pikiran Mbak Anta dan Doan itu dengan bilang kalau itu tuh tindakan praktis saja demi mencegah copet, sekaligus meringankan beban punggung. Hihihihi. Begitu dijelasin, langsung deh dua-duanya ‘Oooo…’ sambil mindahin lagi ransel ke punggung, kekekek.

Gak kebayang kalau menggendong ransel di depan bakal dilakukan seluruh warga Jakarta, huahuahua! Kewl!

Advertisements