Barusan abis baca postingan ini, langsung berasa sehati sama Trinity #sokkenal

Bukan, gw bukannya sering dapat pertanyaan yang serupa dengan Jeng itu, secara gw juga bukan die-hard-traveler-sejati kayak doi. Jati diri gw kan ababil gini, bikin buku soal traveling, tapi abis itu nyaris gak pernah nulis lagi soal traveling, hoho.

Yang lebih sering gw dapatkan adalah pertanyaan seputar beasiswa, dari pertanyaan tingkat basic, sampai tingkat advance.

Kalau menjawab pertanyaan tingkat advance, jelas asik, karena ketauan kadar niat dan risetnya itu orang. Tapi kalau pertanyaan dasar, wedeww…

Sejak gw nulis ‘Cheers, UK!’ gw mulai melonggarkan seleksi pertemanan di FB. Biar gak dikira sombong aja, hahaha. Gw gak sebegitu pede-minta-dikemplang-nya dengan bikin fan page untuk diri sendiri, sehingga pembaca buku larinya ke FB itu misalnya, hihihi. Jadilah gw suka asal approve aja kalau ada temen baru di FB. Sukur-sukur sih kalau ada yang berbaik hati kasih message memberitahu kalau dia sudah baca buku. A little clue helps lhoh.

Jadilah gw suka dapat pertanyaan soal beasiswa dari segala penjuru mata angin. Paling sering lewat cetingan di FB. Karena moda cetingan itu singkat, pertanyaannya juga singkat.

Kadang pertanyaan-pertanyaan dasar membuat gw ingin segera mengeluarkan jawaban instan yang singkat, padat, tulus. Tapi seperti kata teman-teman dekat gw, jawaban tipe tersebut dari gw bisa diartikan sebagai judes. Well, let’s just say that it’s my inner beauty *wink* Jadilah gw kadang harus tarik nafas dikit dulu bentar, trus menulis jawaban yang lebih panjang, lebih padat, dan lebih tulus demi mengurangi resiko patah hati, hihihi.

Pertanyaan yang masuk kategori basic, misalnya kayak gini:

– Dapat beasiswa ya ke Inggris? Wah senang sekali. Beasiswa apa ya?

Jawaban instan: kalau baca bukunya kan mestinya tau gw dapet beasiswa apa dong *wink*

– Pingin juga dapat beasiswa deh. Gimana caranya?

Jawaban instan: baik budi?

– Pasti pinter deh, makanya bisa dapat beasiswa ke Inggris.

Jawaban instan: Saya juara 1 kompetisi mengetik cepat 10 jari #bukanfakta

– Kalau mau cari informasi beasiswa ke Inggris, di mana ya?

Jawaban instan: Google

– Ada beasiswa apa saja ya untuk ke Inggris?

Jawaban instan: *juling*

– Kalau mau tau informasi seputar sekolah di Inggris, cari di mana ya?

Jawaban instan: Google

– Saya masih kuliah semester anu. Apa saja yang harus dipersiapkan ya supaya bisa dapat beasiswa?

Jawaban instan: Errr.. baik budi? *ehudahjawabgituyasebelumnya*

– Saya ingin kuliah di Inggris, studi apa yang bagus ya di sana?

Jawaban instan: *garukpala*

– Saya tertarik kuliah bidang anu. Di Inggris, di universitas mana yah yang paling bagus?

Jawaban instan: *langsungbukayellowpages*

– Syaratnya Chevening apa saja ya?

Jawaban instan: katanya mau cari beasiswa, mosok gak gigih *wink*

Karena itulah gw cintaaaaa banget sama @BeasiswaIndo pas dia ngetwit:

@beasiswaindo: #beasiswa bukan milik org pandai dan atau tidak mampu, tapi milik org yg berusaha mendapatkannya! morning all 🙂

Nah! Enough said! *senyummanis*

Tenang saja, gw masih akan tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk seputar beasiswa kok. Gw selalu mendukung niat barang secuil apa pun yang ada di lubuk hati yang paling dalam untuk sekolah lagi, memperluas wawasan, meraih cita-cita atau apa pun lah motif di belakangnya *wink*

Tentunya, pertanyaan berbasis riset akan lebih disukai #kayaklowongankerja

Seperti kata Jeng Trinity, kuncinya adalah rajin browsing di internet.

Above all, gw sekarang berasa blessing in disguise banget karena gak kepilih anu itu 🙂 Karena artinya gw akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mulia demi masa depan lebih baik ini dalam kondisi helping-wise, bukannya working-wise, hihihi.

PS: British Council Singapura di sini mengartikan ‘blessing in disguise’ sebagai ‘bad luck that turns into good luck’. Eeerr.. bad luck? Ah nooo… The interview was fun, I need to give myself a bit of challenge every now and then, rite?

Advertisements