Tags

, , ,

Ini sambungan dari tulisan sebelumnya yah.

Ini tulisan asli yang gw kirim ke Kurie untuk Majalah Tempo, edisi 22 Mei 2006. Di email, Kurie nulis 3000 kata, dan gw langsung berasa mau pengsan. Tiga ribu! Berikutnya sih gw yakin dia khilaf, mestinya 3000 karakter kayaknya hihihi. Jadilah gw kirim tulisan 1600 kata ini ke Kurie. Tulisan gw tentu saja hanya secuplik dalam tulisan yang akhirnya terbit di Tempo ini. Gapapa deh gw ditulis ‘pembantu lepas’, whatever that means, hihihi.

Selamat menikmati!

Mencapai Westminster Abbey menggunakan tube alias kereta bawah tanah di London sebetulnya takterlalu nyaman, karena hanya dua jalur tube yang melintas di Stasiun Westminster dari total 10 jalur tube yang ada. Tentu ini tak menggentarkan niat turis untuk berkunjung ke daerah ini. Gereja megah yang dibangun sejak tahun 1045 oleh Raja Edward ini terletak tak jauh dari magnet kota London, Sungai Thames dan Big Ben, yang tentunya jadi lokasi wajib-kunjung bagi turis.

Di Sabtu pagi, gereja bernama resmi The Collegiate Church of St Peter ini belum tampak terlalu ramai. Terlihat ada beberapa orang bergerombol di dekat pintu masuk, tak membentuk antrian. Mungkin masih menunggu rombongan genap. Ada dua turis Jepang yang tengah saling memotret di hamparan rumput di depan Westminster Abbey, serta beberapa turis lainnya yang sibuk memotret gereja dari kejauhan. Sementara itu di depan pintu masuk, dua petugas berseragam putih dan berdasi hitam sudah mulai memeriksa tas calon pengunjung gereja dengan metal detector genggam.

Pintu masuk utara adalah pintu utama, dengan plang hijau berdiri di depan pintu dengan keterangan harga tiket masuk. Sejak tahun 1998, Westminster Abbey mulai memberlakukan tiket masuk ke dalam gereja. Ini demi mencegah turis sekadar duduk-duduk rehat di dalam gereja, menanti kereta api super cepat Eurostar dari stasiun Waterloo yang terletak tak jauh dari sini.

Harga tiket masuk Westminster Abbey adalah £10 (setara dengan Rp 150.000,-). Cukup mahal kalau dibandingkan dengan museum-museum di penjuru London yang bebas ongkos masuk. Belum lagi kalau ingin menggunakan fasilitas audio tour atau tur yang dipandu (guided tour), ada uang lagi yang mesti dibayar. Untungnya, selalu ada harga pelajar yang lebih murah dibanding harga tiket untuk orang dewasa.

Pukul 9.30 pagi, ketika pintu Westminster Abbey dibuka, baru ada segelintir orang yang berminat masuk. Pemandangan tampak jauh berbeda ketika matahari berada di atas kepala. Antrian merentang panjang sampai ke pintu pagar yang berjarak lebih dari lima meter. Puluhan orang tampak mengantri, satu per satu masuk ke dalam pintu besar warna hitam. Menilik dari wajah dan penampilan, mereka adalah turis dari berbagai negara. Beberapa siap dengan buku tebal bertuliskan London di sampulnya, sementara yang lain sibuk menyiapkan kamera.

Usai pemeriksaan tas, pengunjung disambut loket di balik pintu hitam. Setelah itu, bersiap-siaplah memulai perjalanan mengitari gereja dengan desain ruangan menyerupai salib ini. Arsitektur megah, dengan detil interior yang rumit, dengan jendela berkaca patri menjulang tinggi, memberikan semburat warna warni ketika langit di luar cerah. Sialnya, keindahan interior gereja tak bisa diabadikan karena di mana-mana terpampang larangan memotret.

Pengunjung tak bisa berjalan semaunya di dalam gereja. Sudah ada jalur khusus yang diperuntukkan, dengan sejumlah penjaga siap mengatur lalu lalang pengunjung. Pergerakan pengunjung pun tak bisa terlampau cepat karena padatnya jumlah manusia di dalam gereja. Belum lagi rombongan tur dengan pemandu yang sesekali berhenti dan mengelilingi satu lokasi sembari takzim mendengarkan penjelasan sang pemandu. Tampak hilir mudik juga turis-turis yang menggunakan fasilitas audio tour seharga £3 (setara Rp 45.000,-). Westminster Abbey menyediakan fasilitas ini dalam tujuh bahasa.

Saya melirik brosur peta, berusaha mencari nama Isaac Newton di sana. Ya, itu dia! Kuburan Isaac Newton terletak dalam ruangan berjudul The Nave and the Grave of the Unknown Warrior, di bagian tengah ke arah sisi barat gereja. Beberapa orang yang ada di sekitar saya juga membisikkan nama Isaac Newton. Rupanya saya bukan satu-satunya yang mencari kuburan Newton.

Di dalam gereja, ada begitu banyak kuburan raja-raja dan orang-orang penting di Inggris pada masanya. Inilah yang membuat Westminster Abbey disebut sebagai House of Gods, House of Kings: Rumah Tuhan dan Rumah Raja-raja. Merujuk pada brosur berisi peta, gereja terbagi dalam lima komponen ruangan. Begitu masuk, pengunjung diarahkan ke sisi kiri – ke bagian timur gereja – melintas di Lady’s Chapel, Confessor’s Chapel, sampai akhirnya tiba di sisi selatan gereja.

Di sisi selatan ini terdapat High Altar, lokasi penobatan raja berlangsung. Tempat ini juga menjadi saksi upacara kematian Putri Diana serta Ratu Elizabeth. High Altar tak mungkin luput dari perhatian pengunjung mengingat bentuknya yang megah, dengan altar keemasan dan mosaik ‘Perjamuan Terakhir’ di latar belakangnya.  Di sini banyak turis menyemut mengagumi keindahan altar keeemasan ini.

Berjalan sedikit menjauh dari High Altar, pengunjung tiba Poet’s Corner; pojokan yang juga dilalui Robert Langdon dan Sophie Neveu dalam pencarian kuburan Newton di dalam Westminster Abbey. Pojokan ini memberikan nuansa yang lebih tidak menakutkan dibandingkan sisi lain gereja yang kini ada di belakang saya. Meski masih berupa kuburan orang-orang ternama pada masanya, bentuknya tak lagi peti mati. Ada sejumlah replika patung yang diabadikan secara khusus di dalam gereja. Diantaranya ada replika William Shakespeare, meski ia tak dikubur di dalam gereja. Juga ada nama Oscar Wilde dan Charles Dickens tertera di lantai dan dinding Poet’s Corner.

Di pojokan ini banyak orang tertangkap basah memotret dengan telfon selular mereka. Gerakan mencurigakan seperti agak mendongak ke atas dengan mengacungkan telfon selular, membuat marshal berjubah merah bergegas mendatangi si pelanggar aturan. “Anda tak boleh memotret di sini,” kata seorang petugas kepada turis Amerika Latin yang tertangkap basah.

Petugas yang berjaga di dalam gereja ini disebut marshal. Sejak tahun 1998, ketika tiket masuk diberlakukan di gereja, ada sejumlah marshal baru yang direkrut khusus untuk mengatur jumlah pengunjung yang membludak. Pada tahun itu saja, ada sekitar 17 ribu pengunjung setiap hari. Jumlah itu tentu saja terus bertambah, apalagi setelah novel Da Vinci Code dirilis, yang jelas-jelas mencantumkan nama Westminster Abbey.

Tak sulit mencermati para marshal ini karena mereka mengenakan jubah panjang warna merah. Di dada kiri tersemat papan nama kecil berwarna hijau bertuliskan “Westminster Abbey – Marshal”. Sesekali terlihat mereka saling berkomunikasi dengan radio komunikasi yang disangkutkan di pinggang. Dengan begitu banyaknya pengunjung di dalam gereja, tugas para marshal ini tentu tak ringan mengingat mereka harus memastikan suasana gereja tetap ‘suci’.

Keluar dari ruangan High Altar dan Poet’s Corner, suasana agak berbeda. Pengunjung dibawa melewati The Cloisters, lorong lebar yang mengitari taman kecil di sisi selatan gereja. Pengunjung bisa mengitari lorong sembari mencermati kuburan-kuburan lain yang masih ada di sepanjang lorong atau memilih jalan pintas untuk langsung masuk ke bagian tengah gereja, The Nave.

Saya memilih mengitari The Cloisters dan melewati Chapter House di sebelah kiri. Ah nanti saja saya mampir ke sana, seperti yang dilakukan Langdon dan Neveu ketika akhirnya bertemu Sir Leigh Teabing di ruangan yang dibangun tahun 1250 ini. Di depan pintu masuk The Nave, ada plang yang meminta pengunjung memperlihatkan tiket masuk kepada petugas. Ada bapak tua berseragam jubah merah, tersenyum dan meladeni pertanyaan pengunjung.

Ukuran ruangan The Nave jauh lebih besar jika dibandingkan dengan ruangan lainnya. Ini adalah bagian tengah gereja, tempat umat menyalakan lilin dan berdoa di hadapan altar. Di sisi kanan dari pintu masuk terdapat altar besar, di bagian tengah berisi puluhan kursi bagi umat yang ingin sembahyang, sementara di sisi kiri ruangan berusia 150 tahun ini terdapat dua pojok lilin. Penuh lilin-lilin kecil yang sudah dinyalakan pengunjung. Ruangan ini adalah ruangan terakhir yang dikunjungi turis, sebelum keluar dari kompleks Westminster Abbey.

Bapak tua tadi bernama Martin Howles, marshal yang bertugas di dalam The Nave. Ia menunjukkan kepada saya di mana letak kuburan Newton. “Di sana, yang bertuliskan Sir Isaaci Newtoni,” katanya sambil menunjuk sisi kanan altar. Di sana ada tanda peringatan berupa sebuah peti batu dengan patung Newton di atasnya dalam posisi berbaring menyamping. Howles bercerita, setelah novel Da Vinci Code dirilis tahun 2003 silam, makin banyak saja orang yang datang dan khusus mencari makam Newton.

Lincoln Cathedral (johnyjet.com)

Ia menyebut, syuting film Da Vinci Code tak dilakukan di Westminster Abbey lantaran kepala gereja tak setuju. “Kepala gereja tidak mau Westminster Abbey diasosiasikan dengan filosofi yang ada di dalam novel,” tutur Howles. Pernyataan resmi Westminster Abbey menyebut novel Da Vinci Code ‘tidak masuk akal secara teologis’. Akibatnya, gereja ini mesti kehilangan uang senilai £100,000 (sekitar Rp 1,5 milyar) karena syuting pada akhirnya dilakukan di Lincoln Cathedral.

Westminster Abbey sempat menyediakan ‘lembar fakta’ kepada turis yang datang dengan semangat napak tilas jejak Da Vinci Code. Namun menurut Howles, kertas itu sebetulnya tak ditujukan bagi turis, tapi bagi para marshal. Penjelasan di kertas kecil itu pun, bagi Howles, tak informatif karena hanya berisi informasi sejarah gereja. Tak berisi klarifikasi dari Westminster Abbey, misalnya, atas ‘kesalahan fakta’ yang tercantum dalam Da Vinci Code.

Howles mengaku sudah membaca Da Vinci Code dan menikmatinya. Tapi sebagai marshal yang kenal betul seluk beluk Westminster Abbey, ia mengingatkan, “Ada banyak fakta yang kurang tepat di dalam Da Vinci Code. Buku ini mesti dibaca dengan menggunakan imajinasi,” katanya sambil membetulkan posisi kacamata.

Ia menyebut contoh Chapter House. Di dalam buku disebut, Langdon bisa melihat ke arah College Garden dari jendela Chapter House. “Itu tidak mungkin,” kata Howles, “karena kaca di sana tinggi sekali. Tidak mungkin bisa melihat ke arah College Garden.

Howles tak menyebut turis-turis Amerika sebagai satu-satunya yang penasaran dengan kuburan Newton dan  Da Vinci Code. “Siapa pun yang bertanya soal kuburan Newton atau soal buku itu (Da Vinci Code – red.) akan saya layani,” begitu kata Howles. Ia menambahkan, gereja Westminster Abbey ini sepenuhnya tergantung dari pemasukan turis mengingat gereja tak mendapat sokongan dana dari negara maupun kerajaan. Karena itu tak mungkin gereja menolak kedatangan turis-turis yang ingin napak tilas Da Vinci Code. “Kami tergantung pada Anda,” ucap Howles.

Tak lama, Howles permisi karena waktu berjaganya sudah habis. Sudah ada marshal berikutnya yang siap menggantikan tugas Martin Howles berjaga di The Nave. Setelah menyalakan salah satu lilin yang tersedia, saya menuju ke pintu keluar.

terima kasih citta! *smooch*

Saya mampir sebentar ke Abbey Shop, toko kecil yang terletak persis sebelum pintu gerbang keluar. Saya tertarik pada koleksi buku di toko kecil penuh suvenir ini. Ah tentu saja. Tak ada buku karya Dan Brown. Yang ada justru ‘penentangnya’, sebuah buku berjudul Da Vinci Code and the Secret of the Temple karya Robin Griffith-Jones. Di dalamnya, lengkap dirinci bantahan dari tuturan Dan Brown.

[Citra Dyah Prastuti, wartawan KBR68H Jakarta]

Advertisements