Tags

,

Sudah pasti gw butuh koper dong buat pergi ke Sydney. Pertanyaannya, pakai koper yang mana. Lebih tepatnya lagi, pakai koper bokap-nyokap yang mana ya? Hihihi.

Ada beberapa pilihan. Koper S*ms*n*t* super gede yang dulu dibawa gw dan kakak gw ke London. Atau koper L*j*l yang biasa dipakai untuk pergi ke luar kota yang agak lama. Atau koper S*ms*n*t* baru yang dibeli nyokap pas koper lama mereka rusak di suatu kota.

Ngemeng-ngemeng susah ya nyebut merek S*ms*n*t* dan L*j*l. Jadi kita sebut saja Koper S dan Koper L. Atau Bunga dan Mawar aja ya? #eh

Pilihan sebetulnya jatuh ke Koper S yang super geda. Tadinya gw ragu-ragu mau pakai ini. Lah wong super geda gitu ukurannya. Tapi, setelah gw tau kalau begitu sampai di Sydney gw akan dijemput, hati gw langsung berbunga-bunga dan berasa mantap yakin bawa koper supergeda ini. Ah toh dijemput ini, ya kaaann. Gw toh gak akan menjejali koper ini buat barang, tapi menyiapkan ruang buat barang-barang tambahan *nyengir*

Tapiiiii.. ini bagian kuncinya kok ngadat  yak. Itu lho, bagian yang ada nomor-nomornya. Kan mestinya itu kalau dibuka, agak ngangkat dikit, lalu baru dicantelin dan baru diputar angkanya sesuai kode kita toh? Nah ini, kayaknya udah kepencet sebelum nyangkut. Ngerti gak? Ah ya pokoknya gitu deh.

Secara ini koper S kalau beli baru pasti mahalnya gak kira-kira, mari kita coba servis dulu. Ayo bawa ke Laba-laba, toko oldschool yang sejak jaman gw rikiplik dulu sudah bergerak di bidang servis koper. Hil yang bawain ke sana. Ternyata Laba-laba gak bisa benerin karena gak punya sparepartnya. Dia menyarankan untuk langsung bawa ke service centernya S itu.

Google punya google, ternyata ada di MKG 3. Ah cincay dong ah, masih terhitung deket. Jadilah gw ke sana membawa koper supergede ini naik taksi. Begitu turun di lobi, tentu saja semua langsung memandang gw aneh. Ke mal kok bawa koper, jangan-jangan gw dikira mau borong dalam rangka Jakarta Great Sale. Tenang aja, gak punya duit kok *bangga*

Untunglah toko itu masih buka. Mas dan Mbak masih menyambut gw dengan gembira, bukan dengan wajah bersungut-sungut karena gw tiba 10 menit sebelum jadwal servisnya kelar. Gw kasih koper ke dia. Si Mbak sigap mengambil. Lalu cari posisi duduk yang enak. Dan mulai muter-muter angka.

Gw takjub. Mendekat dan bertanya. “Itu caranya emang gimana Mbak? Manual diputer satu per satu sampai ketemu angka kuncinya gitu?”

Dia mengangguk.

Gw menganga.

Gw sejujurnya udah lupa cara berhitungnya yah. Tapi kan jaman sekolah dulu ada tuh pelajaran, kalau ada 3 angka, lalu masing-masing dari 0 sampai 9, maka ada berapa kemungkinan. Dan kayaknya banyak tuh. Coba aja.

Gw langsung bilang ke si Mbak,”Selamat berjuang ya!”

Gak lama, ganti ke si Mas. Mulai pegel linu kayaknya, hihi.

Si Mas tekun ngutak-ngatik itu nomor. Gw udah kasih 4 nomor yang kemungkinan sebagai kunci pembuka. Ternyata nomor-nomor itu gak bisa. Setelah 15 menit — or should I say, HANYA 15 menit — Mas itu berhasil membuka koper. Horreeee! Aku bangga padamu!

“Angkanya berapa Mas?” tanya gw. Dia jawab, 914. Eh, angka apaan tuh? Soalnya angka kode koper pasti dipilih angka-angka yang familiar untuk keluarga, dan 914 itu meaningless.

Lalu dia berhasil buka kopernya. Dan dia menjelaskan problem yang terjadi. Yaitu bagian angka-angka kunci itu udah longgar, sehingga angkanya sering meleset. Jadi bisa aja sekarang dibuka dengan angka 914, trus besoknya gak bisa lagi karena bergeser. Waduh, gaswat banget dong ini. Trus dia menambahkan kalau kunci ini udah gak bisa diganti, karena sparepartnya udah gak diproduksi. Oh ya itu no wonder juga sih ya. Koper ini dibeli sejak kakak gw pergi ke London. Dan itu kira-kira tahun 2002. Hampir 10 tahun yang lalu.

Bener aja. Si Mas trus nutup koper, dan mencoba buka lagi. Gagal. 10 menit kemudian, mereka nyerah. Koper dikembalikan ke gw dalam keadaan kembali terkunci. Angka 914 belum tentu mujur bisa membuka. Kalaupun bisa kebuka, di kesempatan berikut bisa jadi angkanya beda lagi. Hidup emang penuh ketidakpastian, tapi paling enggak kunci koper mesti agak lebih pasti dongs ya.

Jadi tampaknya kita say goodbye sama koper S ini. Bokap gw ikut berduka,”Padahal fisiknya koper ini masih bagus ya.” Iya, tapi kalo gak bisa dibuka kan sami mawon. Atau kalau harus digubet tambang bermeter-meter, kan agak kurang trendi gitu secara ini koper bakal ke Sydney, kekeke. Atau gw bawa kardus-kardus bekas aja kayak orang mudik yak? Hmmm.

Beli koper S baru jelas bukan opsi yang menggembirakan hati. Emang sih di outlet yang MKG 3 itu ada plangnya: diskon 50 persen. Tapi diskonnya S gitu lhoooooohhh. Gw yang cuma nguping pembeli nanya aja ikut deg-degan. Koper yang didiskon itu aslinya seharga 5,9 jokut. Jadi kalau didiskon jadi 2,9 jokut. Yaaaa iyaaaa siiihhh 50 perseenn.. tapi kaaannn…

Menyerah? Oh tidak. Masih pingin jajal benerin koper ke sini aaahh..

Advertisements