Itu adalah jawaban pertama yang gw dapat dari Mbak di AVAC, Australian Visa Application Center, ketika gw minta receipt pembayaran diprint ulang.

Theoretically, mestinya itu mudah dong ya. Tinggal liat old files, trus klik print. Toh visanya udah ketempel di paspor gw. Jadi ya udah jelas-jelas itu visa udah ada, yang artinya gw juga udah bayar visa 1 jutaan itu dan 160 ribu untuk lodging fee.

Tapi Mbak itu bilang ‘nggak bisa’.

Tentu saja gw tidak akan menyerah. Secara gw udah jauh-jauh dari Utan Kayu, 2 kali naik bus TransJakarta dan jalan kaki, masa sia-sia? Untungnya gw praktis gak ngantri begitu sampai di AVAC ini.

Gw pasang senyum maut. Dan gw bertanya,”Kenapa nggak bisa ya Mbak?”

Dia bilang,”Karena kami hanya boleh ngeprint sekali.”

Kalau cuma boleh ngeprint visa sekali, gw ngerti deh. Lah tapi ini bon-nya doang gitu lhoh.

Gw pasang senyum manis lagi. “Padahal kan ini hanya bonnya yah Mbak,” kata gw sembari memperlihatkan visa yang udah ketempel di paspor. Lalu gw bilang kalau gw kehilangan dompet gw, kalau receipt gw ada di dalam dompet yang hilang itu. Gw membutuhkan receipt karena biaya visa bakal direimburse sama ABC. Khawatirnya, surat laporan kehilangan dari polisi itu gak mempan.

Lalu dia bilang, dia harus buka sistemnya lagi untuk ngeprint ulang kwitansi. Dan sejatinya gw gak melihat di sisi mana hal itu sulit dilakukan hoho.

Untunglah saat gw ke AVAC itu gw udah bikin laporan kehilangan di polisi. Dan di daftar barang yang hilang, ada “bukti pembayaran visa Australia” di sana. And that was the key. Gw lantas diminta fotokopi surat laporan kehilangan itu dan voila.. receipt asli ada di tangan.

Mbok yao jangan terlalu gampang bilang “Nggak bisa” gitu lhooh..

Advertisements