Tags

,

blogs.telestream.net

Salah satu tantangan terbesar dalam pengerjaan dokumenter radio yang lagi gw garap ini adalah karena seluruh insert/clip si narasumber harus diterjemahkan ke bahasa Inggris. “And it’s a bit hard to find the talents,” kata Nicole, supervising producer gw.

Eh susah ya? *terbayang di kantor, asal comot orang aja buat VO hoho*

Jadi narsum utama gw kan ada dua orang. Mak Eros, perempuan 58 tahun, dan Pak Asep, laki-laki 67 tahun. Nah kata Nicole, talentnya itu sebaiknya yang seumur sama si narsum. “You obviously don’t want young people to say how old she is, how tired she is and whatsoever as Mak Eros said, right?” Bener juga.

Dan sebaiknya juga si talent itu orang Indonesia. Atau paling banter Malaysia lah. Supaya dapat aksen suaranya gitu. Tapi doi juga mesti speaks English well. Lah iya lah, secara ini program kan bakal diperdengarkan untuk audiens Australia tralala.

Nah gw bingung dong. Secara gw newbie gitu di Sydney. Gak tau siapa pun, kecuali Mas Vogas dan Rogas yang ketemu di jalan. Eh plus Tante Leny yang baru dikenalin sama tante gw. Ketemunya baru segelintiran gitu, lah trus nyarinya di mana yak? *ngintip kolong meja*

Kata Nicole, ada beberapa cara untuk mencari talent itu. Dia akan mulai telfon kiri kanan untuk cari talent itu. Bisa juga cari ke SBS, karena mereka punya program internasional. Gw juga langsung gerilya. Duet Vogas-Rogas langsung gw email. Gw email juga Rizka yang dulu pernah di Sydney. Sama gw publish di Twitter dan Facebook.

Semoga ketemu 🙂

Advertisements