Tags

That’s what I’ve been saying to myself the whole day.

Rasanya gak abis-abis gw motongin klip dan dengerin lagi satu per satu klip itu. Sampe enek gw dengerin audio files itu. Ampun biyoooo.. Tapi seperti kata Nicole,”More to come.”

Bagaimanaaaa coba ini gw gak panikk.. *tersedu*

Menggunakan WaveLab ini sejatinya bikin kagok, meskipun ada keunggulannya dibandingkan Cool Edit Pro atau Adobe Audition yang biasa dipakai di kantor. Ketika Nicole datang lagi, baru gw menyadari mestinya gw memperjelas nama audio files, plus bisa memanfaatkan marker yang ada di WaveLab. Jadilah setelah ternyata clips gw ada 100 lebih, dengan total durasi lebih dari 5 jam *pengsan* gw mulai ngeliatin lagi satu per satu file gw. Tentunya ini belum kelaaaarrrrrrr *nangis*

Trus belum lagi ketika gw mendengarkan kembali audio files yang gw punya, ada aja panik yang muncul. Oh no, suara kamera gw jeprat-jepret kedengeran. Oh no, suaranya gak terlalu jelas. Oh no itu dalam MP3 dan bukan WAV. Sementara Nicole bilang, kalau di ABC ada peraturan ketat soal kualitas audio dan MP3 jelas gak masuk itungan. OH NO!

Dan gw punya beribu-ribu files… boong deng, tepatnya 150 clips .. dan itupun belum kelar. Oh nooo.. Dan Nicole harus mendengarkan itu semua, sembari dia juga ngerti apa yang diomongin narsum. Dia bilang, tentu tidak baik adanya kalau gw translate semuanya. Tapi bagaimana dong caranya supaya dia mengerti?

Belum lagi soal talent-nya yang belum ketemu. Yang susah adalah karena talent yang dicari itu di atas usia 40 tahun. Ketika semalam gw kirim email ke Mbak Susy, dia ngasih dua nama, berikut nomor telfonnya. Nicole yang mengaudisi mereka lewat telfon. Kandidat perempuan gak bisa dipakai karena kurang cocok. Sementara kandidat laki-laki, belum berhasil diaudisi dengan bener. Audisinya sih sederhana aja, dengan membacakan 2-3 paragraf dalam bahasa Inggris.

Karena rada desperate, gw mencoba menawarkan nama Mbak Susy ke Nicole. Trus dia tanya,”Would she sounds like you? Like.. middle class and educated?” Eh. Hmmm iya kali yaaa.. “Then you can’t use her,” kata Nicole. Nah lhooooooo… Pegimana coba ini gw mencoba mencari suara yang bisa menjadi talent-nya Mak Eros, 58 years old woman yang jadi penjual kue keliling di Plered dengan 25 anak..

Grrrrhhh… Andaaaiii gw tau nyari talent bakal ribet, gw ganti tema aja daaaaahhh… *getokpala*

Lalu Claudia datang. Dia bilang dia abis ngobrol sama Nicole soal gw. Dia lah yang kemudian bilang,”Don’t panic, this is normal.”

Maaakksssuudddnyaaa nooormaaaaalllll?? *nangis*

Apalagi Nicole bilang,”I would expect you to work on weekend, to make sure that you can have a rough cut, around 2-hour long clips, on Monday.”

Kappaaannn dongg gw jalan-jalannyaaaaaaaaa…. *berderai*

Okeh, gak boleh manyun, gak boleh panik. Karena the worst case adalah gw gak bisa ikut proses produksi dokumenter ini. Dan kalau itu terjadi, oh betapa gw tidak akan memaafkan diri sendiri karena melewatkan proses yang sungguh mendebarkan dan menegangkan itu.

Panic won’t do me any good. Tapi oh mengapa mendadak gw merasa ini jauuuhhh lebih tegang dibandingkan ngerjain disertasi ya? *nangis* It’s time to switch OFF my panic button and start working.

Might start by closing tabs of Facebook and Twitter during working hours *sigh*

Advertisements