Tags

, ,

Gw gatau sih sistem pertaksian di Melbourne ini sama atau beda dengan yang di Sydney, karena sekali-kalinya gw pakai taksi ya ketika di Melbourne. Gw pakai taksi dua kali, dari dan ke bandara. Sempet juga sok-sokan mau naik public transportation gitu. Eh ternyata gak ada airport link dalam bentuk kereta, adanya dalam bentuk bis, dan stopannya rada jauh dari Flinders St. Jadi lupakan, dan mari naik taksi.

Oh bumi, maafkan jejak karbonku. Aku janji adopsi pohon di Green Radio abis ini.

Sebelum gw berangkat ke Melb-Canberra, gw dikasih Cabvoucher sama Claudia. Cabvoucher ini expirednya baru tahun depan. Karena gw dapat 4 voucher, gw simpen 1 voucher untuk kelak ketika gw pulang ke Jakarta dengan koper dan segala macam.

Voucher pertama gw pakai dari bandara Melbourne ke ABC di Southbank. Sejak awal, Claudia bilang untuk cari taksi di taxi rank. Ok, gw mengikuti petunjuk dan mulai antri. Weh panjang juga antriannya yah.

Pas antrian gw udah mendekati taksi, si petugas menyebutkan angka-angka gitu ke kami para penumpang. Nah lho, gw bingung dong, angka apaan tuh. Perasaan gw gak dikasih nomor antrian atau apa pun gitu untuk antri taksi. Eeh ternyata angka itu maksudnya nomor antrian seperti tertera di trotoar tempat nunggu taksi. Oohh lucunyaaa..

Lalu gw naik taksi. Seperti mudah diduga, taksi di Melbourne ini yaa dilengkapi GPS dan sejenisnya. Gw sebutin alamat ABC, dia ngecek di petanya, trus meluncur deh. Ih asik bener. Kalo gini mah gw juga bisa! *boong deng*

Di taksi juga ada stiker-stiker keterangan tarif. Ternyata ada tambahan tarif gitu kalau naik taksi di malam hari. Trus kalau keluar dari bandara, tarif taksi akan ditambahin dengan biaya parkir AUD 2. Sama juga ada fee kalau pesen taksi lewat telfon. Banyak bener tambahan pritilannya yaaak..

Di taksi kedua yang gw naikin, gw langsung terkejut ketika liat kursi Robocop-nya si supir taksi. Hahaha, beneran kayak Robocop! Kata supirnya sih kebanyakan taksi sekarang ada pelindungnya gini. “It’s good for us, especially at night,” kata dia sambil bilang kalau malam suka ada penumpang mabok. Oh yeah, rite. Orang mabok emang nyebelin.

Nah pas udah sampai di tujuan, gw kasih Cabvoucher itu. Sebenernya kata Claudia, gw gak usah minta receipt-nya. Tapi gw penasaran dong. Emang kayak apa sih receiptnya. Maka, gw minta.

Lalu si supir taksi itu pencet-pencet lagi mesin yang ada di dashboard, lalu ngeprint receipt dan gw disuruh tanda tangan. Sebagian Cabvoucher itu ada yang disobek lalu dikasih ke gw. Neat!

Berarti tinggal nambahin satu lagi pengalaman gw dengan taksi Sydney kelak: pesen taksi online 😉

Advertisements