Tags

,

Bus di Sydney ternyata lucu juga kalau dicermati. Eh ‘lucu’ kayaknya bukan kata yang tepat sih ya.. tapi ‘ribet’ juga bukan hal yang lebih tepat.

Nah lho sebenernya gw mau cerita apa sih.

Bus di Sydney ini dibagi dalam beberapa zona. Zona itu ditentukan dalam ukuran kilometer. Satu zona itu sekitar 1-2 kilometer kalau gak salah. Nah, di setiap bis pasti ada stiker yang mengingatkan setiap penumpang untuk naik bis dengan tiket bis yang bener.

Gw rasa sih selama ini gw salah bayar tiket bis, karena kalau sepengertian gw, dari Rozelle ke Ultimo itu udah masuk zona 2. Tapi berhubung diajarin sama Claudia untuk pakai zona 1 saja, yaaa gw nurut dong. Lebih beruntung lagi karena gw dikasih pinjam tiket MyMulti-nya Cheryl, yang artinya gw bisa naik bis, kereta dan feri secara gratis. Tepatnya, Cheryl udah bayar untuk setahun, dan gw tinggal menikmati aja, hihihi.

Ketika gw ketemu dan ngobrol sama temen-temen Indonesia yang gw kenal di KJRI, ternyata mereka warga negara yang patuh hukum. Mungkin karena mereka orang Deplu *lho apa sih* Jadi mereka itu punya tiket MyBus1 dan MyBus2, dan dipakai sesuai kebutuhan. Kalau lagi mau ke Zona 2 pakai bis, maka tiket yang dipakai adalah MyBus2, gitu.

Wah taat hukum sekali toh *tertunduk* Kata mereka sih suka ada petugasnya di atas bis, dan kalau kena denda itu AUD 300. Gede juga sih, tapi seinget gw denda salah tiket di bis London itu sampai 1,000-an pounds. Eh kalau gak salah lho ya *males riset* Lagi-lagi merefer ke Claudia, sepanjang pengalaman dia naik bis selama dia tinggal di Sydney (which is sudah berpuluh tahun), maka dia baru sekali liat petugas ngecekin tiket. Fiuuh..

Selain pakai tiket MyBus untuk bus (MyFerry untuk feri dan MyTrain untuk kereta), bisa juga beli tiket di kendaraan. Eh ini kayaknya buat bis aja ya. Harga untuk zone 1 adalah AUD2. Duit dikasih ke supir, lalu si penumpang akan dapat receipt. Kalau bawa tiket MyBus/MyMulti, tinggal di-dip-in ke dalam mesin hijau itu aja. Mesin hijau ini biasanya ada di samping supir, dan di tempat naro-naro tas. Penumpang memang hanya bisa masuk lewat pintu depan, supaya bisa nyeklok tiket itu.

Kalau pas lagi jam berangkat kantor, suka rada ngantri tuh di pintu masuk. Supir bus pun bisa aja nolak naikin penumpang lagi. Alasannya, seperti tertera di stiker, bis hanya bisa menampung 15 penumpang berdiri. He? 15? Waaahh.. dikit bener yaaaa.. perasaan bisnya gedeeee bener deeeh..

Bis ini juga berusaha membuat nyaman penumpangnya. Di beberapa bis yang gw naikin, di situ ada poster berisi penjelasan tentang gimana safe travel buat orang-orang yang udah sepuh. Tips sederhana aja sih, misalnya, kalau gak tau di mana stopan bisnya, tanya aja dulu sama supir, nanti supir akan kasih tau. Atau, penumpang yang udah sepuh diminta keluar lewat pintu depan karena ada hand-rail-nya.

Cara lain adalah dengan membuat karakter-karakter dari ‘kebiasaan buruk’ yang sebaiknya disingkirkan dari public transportation. Misalnya, orang yang gak ngasih tempat duduk buat orang lain, dan sebagainya. Kalau poster ini ditaro di kereta/bis di Jakarta, mungkin ada karakter orang yang suka pura-pura tidur supaya gak perlu ngasih duduk ke orang lain *wink*

Ada satu hal yang sama antara bis-bis di Jakarta dengan Sydney: kalau mau naik bis, ngacungin tangan dulu biar supirnya berhenti di halte. Ingat, berhenti di halte, bukan di sembarang tempat, kekeke.

Advertisements