Tags

Setelah 4 hari berpisah dengan WaveLab, kangen juga. Eh, boong deng. Gw memulai hari ini dengan senang dan gembira. Pertama, karena gw lagi keren. Kedua, karena pekan lalu Nicole kirim email ngasih tau kalau struktur cerita gw udah oke, gak perlu banyak perubahan meski gw terasa agak ‘detached’ dari cerita.

So far, gw kirain tinggal dikit lagi lah kerjaan gw sebelum akhirnya bertemu dengan sound engineer sepanjang pekan depan.

Dan, gw salah aja dong.

Ketika gw mendengarkan lagi mixinga Draft 5 gw yang udah dibenerin sama Nicole, tampaknya sih mulus aja ya. Terdengar baik di kuping gw. Ada catatan dari Nicole di sana-sini, misalnya ketika atmos-nya menghilang, atau klip narsum terlalu panjang, materinya terlalu mengulang, atau ada good bits tapi kok gak ada terjemahannya. Ini dia nih tricky-nya kerja sama translation, karena bisa aja ada hal-hal yang missed.

Setelah diskusi sama Nicole, dia minta gw untuk dengerin ulang Draft 5, trus membuat Draft 6 sembari benerin audionya di sana-sini. Yang diminta untuk dipotong, maka dipotonglah. Setelah pangkas sana pangkas sini, jadilah mahakarya gw itu sekitar 35-37 menit. Eh belum mahakarya deng, secara belum jadi gitu lho.

Abis itu, gw mesti benerin terjemahannya. Di sini gw rada miskomunikasi nih sama Nicole. Gw kirain gw mestinya benerin kalimat-kalimat terjemahan, eh ternyata enggak. Karena ada revisi yang gw lakukan, yang menurut Nicole jadi agak mengurangi ‘drama’-nya. Nah lho, puyeng gw. Huhuhu.

Setelah itu beres, here comes the yummieh part. Gw mesti nyiapin naskah transkrip untuk dibaca sama talent yang akan jadi Mak Eros dan Pak Asep, dua tokoh utama dalam dokumenter ini. Apakah ini semudah copy-paste? Semula gw pikir begitu.

Apparently, I speak too soon.

Yang harus gw lakukan adalah memberi konteks pada setiap transkrip yang akan dibawakan oleh si talent. Jika Mak Eros lagi di dalam atau luar rumah, kasih tau. Apakah lagi jalan atau berdiri atau duduk, kasih tau. Bagaimana nada bicaranya? Soft voice? Scared? Light-hearted? Heavy breath? Slow pace? Laugh? Laugh ironically? Sigh? Voice trembles? Defensive tone? Flat tone? Straight-forward delivery?

Masa aloohh, puyeng gw tenggelam dalam adjectives dan adverbs itu!

Belum lagi pilihan diksi terjemahan yang gw lakukan. Terjemahan versi awal gw emang asal cepet aja, mungkin kurang terlalu pas, tapi ya gitu deh. Biar Nicole nangkep maksud gw aja. Tapi ternyata ada aja yang gak pas.

Misalnya gini. Si Mak Eros ini kan orang miskin,  puyeng dengan kehidupan sehari-hari yang si anu minta duit, si inu minta anu, dan sebagainya. Maka si Mak Eros dalam bahasa Indonesia berkata,”Saya pusing.” Apakah itu terjemahannya “I’m confused”? Tentu bukan. Jadilah gw dan Nicole main tebak-tebakan kata yang pas untuk menggambarkan itu, sampai kita ketemu kata ‘overwhelmed’. Fiuh.

Atau ketika gw menulis ‘laugh ironically’ setiap kali si Mak Eros lagi ketawa miris dalam klip audionya. Nicole tanya gimana tuh yang disebut ‘laugh ironically’? Gw menirukan. Lalu Nicole bilang, kalau frase itu sangat mungkin diartikan beda oleh si talent. Jadi gw harus agak lebih spesifik dan mengurainya dengan kata-kata, apa yang sebenernya gw maksud dengan ‘laugh ironically’ itu.

Yang lebih katro adalah gw melakukan banyak kesalahan grammar dan tenses. Hahaha, bisa dipentung nyokap gw nih 🙂 Yaaaahh maklum laaah udah lama gak harus nulis dalam bahasa Inggris. Pas ngobrol-ngobrol sama Nicole soal ini, dia baru inget kalau di Bahasa Indonesia gak ada tenses yang kaku. “That’s why you have the problem with tenses!” kata dia malam tadi.

Untunglah malam ini gw berhasil menyelesaikan tugas mulia, yang ditargetkan selesai besok malam: ngirim transkrip ke talent. Transkrip Mak Eros udah dikirim ke Bu Weddy, sementara transkrip Pak Asep udah dikirim ke Pak Anyo. Tinggal menunggu Rabu, saat mereka rekaman.

Fiuh, tampaknya masih jauh perjuangan… Wish me luck!

Advertisements