Tags

Gw diundang Claudia untuk datang ke editorial meeting-nya 360. Ada beberapa proposal yang masuk, rapat ini untuk menentukan cerita mana yang akan dieksekusi untuk program 360 Documentaries. Sebelum ikut rapat, gw disuruh baca proposal-proposal yang masuk dulu, supaya bisa ikut berkontribusi.

Ok, let’s see, apa saja proposalnya?

Ada yang mau nulis soal cook book. Ada yang mau ke Siberia untuk ikut festival film dan ngajuin bikin cerita soal Siberia. Ada yang suaminya lagi divonis kanker, nulis surat soal itu, dan surat-surat itu mau dijadikan dasar untuk bikin cerita. Ada yang mau bikin cerita soal kamp pengungsian. Ada juga yang proposalnya berjudul ‘Garbage n Stuff’. Oh ada juga yang mau bikin dokumenter tentang Lucid Dreamer, kayak film Interception gitu. Ada juga yang mau bikin cerita dari Kamboja, dari tiga chef, tentang membuat masakan dan perbedaan cultural background mereka; judulnya ‘Cooking Amok’. Terakhir, ada yang mau bikin cerita tentang performers dari berbagai ragam ras.

Gw bacain semua proposal itu. Beberapa ada yang gw gak mudeng. Misalnya gini: apa serunya yah cerita soal cook book? Dan bukankah itu sangat personal? Atau cerita soal garbage n stuff, duh ada apa lagi sih emangnya soal ini? Satu-satunya yang kayaknya buat gw oke adalah yang Cancerland, cerita soal istri yang suaminya kanker paru-paru; karena surat-suratnya itu bagus banget.

Proposal ini datangnya juga dari berbagai penjuru arah. Ada yang dari orang ABC sendiri, tapi beda program. Ada yang dari Triple J Radio, masih geng-nya ABC juga. Ada yang independent producer. Ada juga yang dari ABC Television. Gak kebayang gw gimana caranya itu proses penggarapan bakal ribet banget karena semua orang gak punya starting point yang sama… *lap keringet*

Oke, sekarang mari kita ikut rapat. Di ruangan Claudia, ada Claudia *tentunya* dan Nicole, Sharon dan dua lagi lupa namanya. Ada juga yang ikut rapat lewat telfon yaitu Gretchen dan satunya lagi gw lupa. Lucu ya, kita rapat rame-rame, ada yang bentuk fisik, ada yang suaranya doang.

Setiap proposal lantas dikomentarin dan diputuskkan akan dieksekusi atau enggak. Claudia yang akan ngitung budget karena budget mereka katanya sih terbatas. Jadi untuk setiap proposal, setiap orang akan ditanya gimana pendapatnya soal ini. Misalnya soal cook book itu. To my surprise, hampir semuanya setuju bikin dokumenter soal itu. Yang gak setuju hanya Claudia. Tapi karena sisanya setuju, ya sikat. Claudia gak setuju karena dia ngerasa udah ada banyak banget program cook book di radio. Nah kalo gw sih gak setuju karena gak ngerti aja apa serunya. Mungkin ini bagian dari cultural difference yah.  Kali lho ye.

Lalu beralih ke proposal berikutnya, Cancerland. Ini mixed response nih. Ada yang setuju, karena tulisannya bagus. Tapi ada juga yang gak setuju karena si producer yang ngajuin proposal ini, tidak bagus cara deliver story-nya; sementara ini cerita personal banget, isinya surat-surat dia. Keputusannya, proposal ini diterima, tapi harus cari actor untuk membawakan surat-surat itu. Gw ngangguk-ngangguk aja, kagum, bisa toh ada actor untuk jadi talent di dokumenter, hihihi.

Setiap orang bisa beda-beda banget pendapatnya. Gak pake gebrak meja sih, tapi karena beda-beda kadang suka bikin Claudia kesulitan ngambil keputusan, karena ada mixed response itu. Misalnya, ada proposal yang yaaaaahhh kayaknya oke juga sih, tapi harus ada pengawasan dari supervising producer yang ketat banget bla bla bla. Giliran ditanya Claudia, siapa yang mau jadi supervising producer, eh pada gak ada yang mau, haha!

Ada juga proposal yang sebetulnya dari segi ide oke juga, tapi orang ini pernah dua kali garap dokumenter untuk 360, dan tidak memuaskan. Tidak memuaskan bukan dari kualitas hasil karya akhirnya, tapi lebih dari attitude-nya, mudah diarahkan atau enggak, mau terima masukan atau enggak dan sebagainya. Peserta rapat ada yang berpendapat, 360 jarang punya dokumenter dari negara itu, jadi kayaknya sih oke juga, tapi harus ada briefing ketat. Tapi ada juga yang berpendapat, kalau orang itu udah 2 kali dapat kesempatan, trus gak oke, ngapain dikasih lagi. Gw lupa, bagaimana akhirnya nasib ini orang J

Satu istilah yang baru gw denger dari rapat ini adalah ‘too pedestrian’. Eh, gimana tuh maksudnya dokumenter yang ‘too pedestrian’?? Ternyata maksudnya adalah ‘boring’. Ada salah satu producer yang pernah bikin dokumenter untuk program lain, tentang history of camel in Australia (kenapaaa juga penting banget ya bikin cerita beginiaaan… *puyeng*) dan cerita itu ternyata sangat membosankan.

Asik sekali ikut rapat ini. Padat dan bergizi. Dan semua pesertanya perempuan. Oh yeah! Girls rule!

Advertisements