Tags

Ini adalah penanda Kings Cross, kata David O’Shea. Penanda yang udah berpuluh tahun ada di sana ini jadi aba-aba kita masuk ke daerah Kings Cross — daerah yang dulunya dianggap ‘pusat’ komunitas gay di Sydney. And that’s the very reason why I wanted to be here.

Tapi kata David, gw terlambat 10 tahun kalau mau liat Kings Cross yang sleazy. Kalau sekarang, udah dibersihin semua, jadinya yaaa tampak seperti suburban Sydney lainnya. Memang ada strip clubs, men’s club dan sejenisnya, tapi saat ini klub seperti ini gak hanya ada di Kings Cross.

Jadilah, here I am, menemukan Kings Cross yang adem ayem. “I thought it would be more… lively?” kata gw ke David. Tapi yaaa gw pilih saat yang salah untuk berada di Kings Cross: weekday dan jam 7 malam. Kalau gw di sini lewat tengah malam, nah baru rame tuh. Widih.. mending gw kemulan di selimut deh..

How come sekarang Kings Cross jadi rapi jali gini? Menurut David gini. Duluuuu Kings Cross ini jadi pusat prostitusi dan sejenisnya, termasuk ‘tempat sembunyi’ kelompok LGBT di Sydney. Selain itu, Kings Cross juga punya polisi yang sangat korup. Ketika para polisi korup ini dibasmi, kota sekaligus ‘dibersihkan’ sehingga jadi yaaa seperti sekarang ini.

Yang tadinya strip club, jadi restoran Thailand. Yang tadinya jadi pusat klub untuk transvestite, sekarang yaaa masih club sih tapi gak terlihat ramai. Klub yang tadinya hip banget di Kings Cross, sekarang tutup. “Everything has changed,” kata David.

Yeeaaaa secara gw udah telat 10 tahun, what can I say? Paling enggak gw udah pernah menginjakkan kaki di Kings Cross. It’s the experience that matters 🙂

Advertisements