Tags

Dua frase itu yang selalu muncul di headphone gw setiap kali gw masuk studio untuk baca naskah.

Baca naskah di sini memang bukan the end of the journey, sama sekali enggak. Ketika naskah itu dimasukin dalam mixingan, trus terdengarnya gak cocok, atau gak nyambung sama audionya, ya bisa aja diubah lagi. Jadinya emang gw berkali-kali banget dalam sehari untuk reading. Bisa satu kalimat, bisa satu paragraf, ya pendek-pendek aja kalau ada yang dirasa perlu diganti

Dan gw sungguh bukan pembawa  naskah yang baik, huhuhu.

Misalnya gw mulai baca satu kalimat nih, trus di sisi studio yang lain, Nicole akan langsung menjerit dan menghentikan gw. “You sound so flat. Picture it while you say the words.” Dan kalimat yang gw bacakan adalah “She’s going to cook vegetable soup and stir-fry salted fish”. Hadoooh gimana caranya gw ‘membayangkan’ itu dalam tone suara gw? “Come on, make us hungry!” kata Timothy menyemangati. Eaaaa..  piyeee..

Atau ketika gw melibas saja kalimat “From the first marriage, Eros had 5 children. With Asep, she had 20 children” maka Nicole kembali menjerit di headphone gw. “It’s a big deal, 5 children, and then 20 children. Make it a big deal in your tone.” Eaaaa kepiyeeeee..

Giliran gw berusaha terlalu keras, maka itu gak bener juga. Kalo gw udah mulai putus asa, biasanya gw setiap kali menyelesaikan satu kalimat, akan melirik ke Nicole, untuk ngecek apakah tone gw udah bener atau belum. Gw langsung dilarang Nicole untuk melakukan itu lagi, karena suara gw jadi terdengar puzzled dan itu tentunya gak bagus.

Ataauu.. gw terlalu sing song alias terlalu mengalun. Biasanya jebakan ini terjadi kalau kalimatnya panjang. Supaya gw rileks, maka gw cenderung jadi sing song itu. Hadoooh bingung gw sama suara diri sendiri, ribet bener yaaaakk.. Kalau gw udah hampir deket tone yang bener, maka Nicole akan menyemangati lagi,”This is ok, but I’m sure you can do this better.” Mariiii semangaattttt!

Itu baru tone yah. Belum lagi soal kalimat-kalimat bahasa Inggris yang harus gw bacakan itu. Kadang-kadang gw kasih penekanan di kata yang salah, atau pronounciation gw yang mendadak ribet gitu. Lagi gw juga sok-sokan bikin kalimat menjebak sih,”She sells snacks.” Itu kan kalimat jebakan banget. ‘Sell’ bisa dibaca kayak ‘shell’, karena kebawa sama baca ‘she’. Sementara ‘snacks’ bisa-bisa kebaca jadi ‘snake’.. hadeehhh.. Gw jadi inget kalimat yang pasti bakal ribet kalau dibaca cepet: she sells sea shells on a sea shore.

Satu hal yang gw perhatikan, juga sudah diomongin sama Mbak Vie atau Mas Eko di kantor, kalau gw baca itu buntut kalimatnya pasti naik. Ketika gw bilang gitu ke Timothy, dia bilang,”I reckon it’s every two words…” kekekeke lebih gaswat lagi dongs.

Gw bilang juga ke Nicole dan Timothy,”It’s exactly why in my office, they don’t allow me to read long script, because I sound too dull and too flat.” Gw langsung dipukulin sama Nicole. “But your personality is not like that!” sementara Timothy bilang,”You have a bubbly personality! But you just throw it outside the window every time you’re in the studio reading your script.” Hihihi, bubbly pesonality itu kepiye yo..

Jadi kuncinya adalah tenang, gak keburu-buru dalam membaca… put a smile on your face.. picture it in your mind… and no sing song, haha!

Advertisements