Tags

,

Percobaan ini bermula dari email gw ke Rebecca. Secara dia orang Sydney, masa gw pulang ke Jakarta, gw bawain dia gantungan kunci koala? Gak muksin toh. Jadilah gw email ke dia, nanya apa yang madibawain dari sini.

Lantas Rebecca minta vegemite. Eh,  naon?

Lalu gw datang ke studio dan bertanya pada Timothy: apa itu vegemite? Dia bengong dikit. “Why do you ask?” Gw cerita soal rikues Rebecca itu. Lantas dia bilang vegemite itu toast spread yang sangat khas Australia. Rasanya? “It’s bizarre like nothing else in the world!” Eh?

Gak lama datang Nicole. Timothy cerita ke Nicole soal gw mencari vegemite ini. Dan deskripsi Nicole lebih jujur dan menyeluruh:”It looks like tamarind and tastes like crap.” Wahahahaha. Menarik sekali review-nya! Berhubung tadi siang kita pergi makan siang rame-rame sebagai farewell lunch gw, Timothy berjanji memesan vegemite toast buat gw.

Begitu si toast itu datang, semua langsung mengomentari. Timothy ternyata suka vegemite toast. Lalu dia bilang, spread-nya ini kurang merata dan kebanyakan. Semuanya harus pas kalau mau enak, kata dia.

Oke mari kita jajal.

Dan rasanya… yikes! Ajaib! Asin. Tapi trus ada rasa lain yang tak tergambarkan. Ajaib.

Lalu Katherine (kalau gak salah) bilang, vegemite ini enak kalau dioles sama avocado toast. Hadoh, lebih gak kebayang lagi nih. Ketika gw liat Claudia makan toast pakai alpukat aja gw udah berasa aneh. Lah ini lagi, udah pake alpukat, pakai vegemite lagi??

Dan Rebecca, tenanglah, vegemite dan dried apricot pesananmu sudah aman di koper. Juga versi tube buat gw dan Nita icip-icip di kantor 🙂

Advertisements