Sekitar 3 jam lagi, gw harus bangun lagi, mandi, naik taksi ke bandara dan mengejar pesawat ke Denpasar. Abis itu lanjut ke Dili.

Yahuuuy… gw ke Timor Leste!

Kali ini urusannya kerja. Yeilah, kapan juga gw ke luar negeri urusannya plesir doang? Yang ada mah selalu nebeng kerja, nebeng pelatihan, nebeng workshop, sampai plesir yang sifatnya nebeng belajar hihihi.

Di 3-4 hari pertama gw di Dili, gw akan liputan soal anak-anak Timor Leste yang “diadopsi” oleh keluarga Indonesia semasa invasi Indonesia 1975-1999. Lalu mulai Senin, gw akan ada pelatihan bareng Timor Leste Media Development Center, TLMDC. Eh paling enggak gw duga kepanjangannya TLMDC ya itu, hihihi.

Semula reaksi gw begitu tau bakal ke Dili sih ya flat aja. Sama kayak gw dikasih tau mau ke Sydney. Sotoy gak sih. Pasti beda reaksinya kalau,”Besok kamu kasih training di London ya.” Gw bisa langsung salto tuh.

Tapi dengan persiapan liputan yang sama ribetnya dengan persiapan plesir, melototin peta Timor Leste biar dapat rute perjalanan yang paling asoy, milih-milih hotel di Dili dan mencatat hotel di Baucau serta Lospalos buat jaga-jaga, jadilah gw bersemangat menuju ke Timor Leste.

Barusan, dalam rangka persiapan liputan, gw baca Chega! Itu adalah laporan hasil kerja Komisi untuk Rekonsiliasi di Timor Leste. Isinya adalah pengalaman dari orang biasa selama masa invasi itu. Widih, ngilu banget bacanya, isinya siksaan manusia semua. Gw jadi deg-degan mau menginjak ke tanah Timor Leste. Bagaimanapun, sejarah menyebut Indonesia dulu kan ‘musuh’-nya Timor Leste.

Ah tapi nggak perlu takut dong ah. Kan gw gak cs sama tentara yang nyerang Timor Leste. Ini mungkin sama deg-degannya dengan saat gw mau ke Aceh sebagai embedded journalist-nya TNI. Atau berada di daerah merah-nya Ambon, dan baru tau setelah nyampe.

Rasa takut itu harus dihadapi dengan gembira. Jadi marilah kita bergembira menuju ke Dili, mengenal Timor Leste yang konon pantainya keren buwanget itu. Daaann.. siapa tau ketemu Raul Lemos dan Krisdayanti! *salto*

Advertisements