Bagian yang baru disemen itu adalah bekas tembakan

 

Setelah gw selesai urusan wawancara dengan keluarga di Kampung Ira Lafai, gw dijemput lagi sama Kak Inacia, Kak Isa dan ponakan-ponakan mereka. Malam ini gw akan menginap di rumah Kak Inacia, yaitu di Kampung Titilari.

Oh ya, semua ujung “I” itu dibaca sebagai “e” seperti di kata “ember”, jadi kampung ini dibacanya “Titilare” dan kampung sebelumnya dibaca “Iralafae”.

Begitu sampai di rumah, Kak Inacia memperlihatkan bekas lubang di tembok rumahnya. “Dulu rumah ini ditembakin dan dibakar tentara.”

… … …

Huhuhuhuhu.

Lospalos, Distrik Lautem, Timor Leste

Malam itu makan malam gw rasanya jadi seret banget. Gw makan sambil mendengarkan cerita masa lalu di Lospalos dan Dili ketika “zaman Indonesia dulu”. Selalu ngilu dan berdosa rasanya kalau denger frase itu. Frase itu seperti sama dengan abuses dan human rights violations untuk seluruh warga Timor Leste…

Di Lospalos dulu warga tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Selalu khawatir bakal diambil sama tentara. Kalau sudah diambil, tidak ada yang bisa tahu gimana nasibnya. Bisa diperkosa, bisa dibunuh, bisa ditusuk, lalu mayatnya diseret dan dibuang ke laut atau dibuang ke hutan. Atau bisa juga,”Mungkin napasnya masih satu-satu, tapi langsung dikubur hidup-hidup di dalam lubang.”

Duh.

Narsum dan penolong gw selama di Dili & Lospalos - Kak Inacia, Pak Jose da Silva Soares, Kak Isabela, Ibu Sabina Ximenes, Veronica, Kak Sity

Kak Inacia sekeluarga sempat merasakan lari ke hutan untuk menyelamatkan diri. Waktu itu bapaknya Kak Inacia nggak mau tinggalin rumah. Alasannya, dia harus jaga rumah, karena rumah ini dia bangun dengan jerih payah sendiri, bukan dikasih sama pemerintah. Jadilah setiap hari Kak Inacia harus keluar dari hutan untuk nyiapin makan bapaknya, lalu balik lagi ke hutan. Ayam, babi, kerbau yang mereka punya sukur-sukur masih selamat dan bisa dibawa ke hutan, atau ya keburu ditembakin sama tentara.

Pas 1999 Timor Leste akhirnya merdeka setelah referendum, tentara menggila. Apa saja ditembakin. Kak Inacia cerita, konon setiap kali briefing tentara, para tentara itu minumannya dikasih racun anjing gila. Jadi tentara ya kayak orang gila gitu. “Mata mereka merah, bengkak, ngeri banget. Dan mereka langsung nembakin apa saja, termasuk kerbau, babi. Kampung ini bau busuk karena begitu banyak bangkai. Baunya baru hilang setelah 2 bulan.”

Mak.

Sabina Ximenes pendukung Fretilin. Kakaknya Fretilin, gerilya di hutan. Anaknya diambil pasangan Indonesia yang didampingi tentara.

Sebelumnya pas di rumah Ibu Sabina Ximenes, dia juga cerita soal “zaman Indonesia dulu” itu. Dia itu kan Fretilin, punya dua kakak gerilya di hutan. Setiap kali tentara Indonesia nembak anggota Fretilin, si Ibu itu pasti akan dipanggil tentara, dibawa pakai helikopter gitu untuk identifikasi jenazah: ini Mau Nana atau bukan? Mau Nana itu salah satu kakaknya, pentolan Falintil, kepala pengamanannya Xanana dulu, sekarang kerja di BAIS-nya Timor Leste. Sangar ya bo.

Kalau di Lospalos, ada satu nama anggota Babinsa yang begitu menakutkan. Setiap kali namanya disebut, semua orang ketakutan. Anak muda yang laki-laki jangan harap aman kalau ada sama dia. Bisa dibunuh, hilang, dibuang ke laut. “Atau kalau yang perempuan diperkosa atau dibunuh.”

Teriris-iris rasanya ngedenger kayak gitu.

Lantas gw bertanya pada mereka: apakah kalian nggak trauma?

Kak Inacia jawab, “Trauma ya trauma. Tapi yang penting kita dapat apa yang kita mau: merdeka.”

Ah.

Advertisements