Tags

Pameran Chega! di Penjara Balide ini satu hal yang paling ingin gw datangi di Dili. Pas baca-baca di website, udah ngeri. Pas sempet sekali ke kantor CAVR, yang juga di Penjara Balide, udah berasa ngeri. Setiap kali denger frase “zaman Indonesia dulu”, rasanya ngilu banget.

Dan pagi tadi gw memberanikan diri untuk pergi ke pameran Chega!

Pameran Chega! ini ada di Penjara Balide atau Comarca Balide. Chega! artinya “enough” dari bahasa Portugis. Ini juga yang jadi judul laporan kerja CAVR – komisi penerimaan, kebenaran dan rekonsiliasi – yang merekam catatan peristiwa selama masa penjajahan Indonesia 1975-1999 di Timor Timur.

Penjara ini sudah dibangun sejak masa Portugis, dan dipakai juga oleh tentara Indonesia untuk menyiksa tahanan. Duh. Nulisnya aja udah bikin ngilu hati.

Pameran ini terdiri dari 4 bagian. Bagian pertama isinya nggak terlalu seru, yaitu soal kerja CAVR. Bukannya komisi ini gak oke yah, tapi tampilannya gak terlalu menarik ajah. Di bagian kedua juga biasa-biasa aja, isinya kronologis saja.

Penjara ini sempat direnovasi, setelah pada 1999 dibakar sama tentara Indonesia, gara-gara Timor Leste dinyatakan merdeka setelah jajak pendapat. Sisa-sisanya diperbaiki, tapi ada beberapa bagian yang terus dipertahankan. Misalnya, di beberapa tembok ada gambar-gambar dari tentara yang tinggal di situ. Salah satunya misalnya bertuliskan “Arek Suroboyo”. Atau ada lambang-lambang kemiliteran gitu. Gambar itu dipertahankan, lalu dilapis kaca biar awet, sementara sisa bangunan lainnya, baru direnovasi.

Bagian yang mulai bikin ngilu adalah bagian ketiga: perempuan dan anak dalam konflik. Di situ digambarin gimana dampak perang itu buat perempuan dan anak-anak. Ada foto satu perempuan, yang dia dulu pas kecil dipaksa tentara nyiram sup panas ke kepala ibunya. Ibunya lagi disiksa tentara, dipaksa menunduk di hadapan bendera Indonesia di dalam Penjara Balide.

Lalu ada juga foto anak-anak perempuan yang dipaksa bawa senjata. Duh gak kebayang. Ada satu tempat di Ainaru (kalau gak salah) yang disebut sebagai “Jakarta” oleh tentara. Ini adalah daerah lembah yang dalam banget. Di tempat inilah, anak-anak yang ditangkepin, dilempar ke lembah. Kalau ada orangtua nyariin, maka frase yang paling standar adalah “Anaknya pergi ke Jakarta.” Dan itu artinya mati. Meh.

Bagian ini tidak direnovasi sejak zaman penjajahan Portugis

Bagian keempat adalah yang paling nyeri: sel gelap.

Dan yang bikin lebih serem lagi, bagian ini adalah satu-satunya bagian Penjara Balide yang dipertahankan seperti aslinya. Jadi busuk-busuknya dinding, dinding yang kusam, pintu besi yang tua, itu semuanya asli. Asli dari zaman Portugis. Asli jadi saksi kekejaman penyiksaan tentara Indonesia di sana.

Dulu di sini nggak pakai lampu tentunya

Sel-nya kecil. Sayang gw gak pandai mengira-ngira ruangan, mungkin sekitar 2 meter dikali 2 meter. Pengap. Tinggi dan hanya ada satu kotak persegi panjang di bagian atas untuk lubang angin. Tidak terang, jelas. Pintunya dari besi, hanya ada satu lubang kecil di situ. Lubang itu untuk ngasih minum tahanan, dan lubang buat keluarga yang jenguk kerabatnya yang di penjara. Jadi yang keliatan ya hanya mata, gak bisa liat tampangnya.

Ada angka-angka seperti ini di tembok. Konon ini kode sesama tahanan.

Sel-sel ini sekarang sudah dikasih lampu, karena dijadikan tempat pameran Chega! itu. Tapi dulu ya nggak ada lampunya. Si Mbak Eugenia sang pemandu sempat mematikan lampu ketika kita berdua ada di dalam salah satu sel. Masaaloh. Serem banget. Gelapnya bukan kepalang. Huhuhu sediiihh.

Saksi bisu kekejaman buat orang Timor Leste yang mau merdeka

Di dalam satu sel bisa diisi 20 orang. Trus toilet di sel sebelah itu sengaja dirusak, jadi air kotor mengalir ke sel-sel yang lain. Dan itu ya dibiarin aja. Jadi para tahanan nggak bisa duduk, tapi harus berdiri. Minum dikasih lewat lubang kecil itu. Kalau bisa dapat minum ya bagus, kalau enggak ya udah. Makanan cuma dikasih satu sendok per hari.

Nangis baca tulisan ini...

Yang ada di tahanan ini nggak hanya orang Timor Leste yang pengen merdeka, tapi ada juga TNI yang langgar aturan. Karenanya di tembok, suka ada coretan dalam bahasa Indonesia, ada juga yang dalam bahasa Portugis atau Tetum. Ada salah satu sel yang ditulisin pesan dalam bahasa Portugis. Katanya itu adalah pesan dia buat istrinya. Huhuhuhu. Ada juga salah satu pintu sel yang ditulisi gambar salib, dan di sebelahnya ada tulisan: Jangan lupa doa.

Mau nangis gw rasanya ada di situ. Dada langsung terasa sesak. Mata panas dan mulai siwer ngeliat. Sedih banget ngebayangin kejadian dulu kayak apa.

Ruang penyetruman

Lalu Mbak Eugenia memperlihatkan satu sel lagi. Di sel inilah yang toiletnya sengaja dirusak. Trus air kotor kan meluap, jadi di sini kayak bak. Di balik pintu persis emang ditembok, jadi ya air memang ketampung di situ. Lalu dia nunjukin kabel. Ini kabel asli dari jaman dulu. Jadi tahanan yang mau disiksa, ditaruh di sel ini, airnya penuh, lalu mereka disetrum.

Haduh.

Di tengah-tengah sel ini juga ada besi melintang. Dan ada kabel bergelantungan. Di sini adalah tempat menggantung tahanan. “Biasanya tahanan yang perempuan,” kata Mbak Pemandu. Dia bilang, biasanya tahanan akan diraba sekujur tubuhnya, lalu dibuka bajunya satu per satu. Kalau jawaban dia tetap sama, maka dia akan diperkosa. Kalau jawaban dia masih sama, dia akan dibunuh, lalu jenazahnya dilempar ke dinding.

Gw tanya, memang pertanyaannya apa?

Pertanyaannya: mau integrasi dengan Indonesia atau merdeka?

Kalau jawab yang kedua, artinya ya disiksa.

Udah deh gw clueless abis. Ngilu makin menjadi-jadi.

450 names... and counting..,

Persis di seberang sel tempat nyetrum itu, ada sel lagi. Di dindingnya ada papan besar warna hitam. Di situ tercatat nama-nama tahanan yang sempat di Penjara Balide ini. Ada 450 nama. Dan daftarnya terus bertambah.

Di pojokan ruangan disediakan kertas-kertas. Jadi kalau ada keluarga yang kerabatnya pernah masuk penjara dan gak kembali, bisa tulis namanya di situ. Dan tempelan kertas baru itu juga ditaruh di sel yang sama. Sejauh gw liat tadi, ada lebih dari 10 kertas baru. Di sel ini juga ada lilin-lilin. Biasanya pengunjung berdoa dan menyalakan lilin di situ.

Sedih sedih sedih pol rasanya.

Kenapa bisa ada orang sekejam itu sama orang lain?

Dia diperkosa, lalu dibunuh.

Sebelum gw pulang, gw ngobrol lagi sama Mbak Eugenia, sang pemandu. Dia baru kerja 3 bulan di sini. Dia bilang, waktu awal kerja di sini, dia merinding, takut. Tapi lama-lama jadi terbiasa. Karena dia jadi tahu banyak soal sejarah saat penjajahan Indonesia, dia sempat jadi marah. “Dengki rasanya sama orang Indonesia.” Mungkin dengki bukan kata yang pas ya. Maklum, dia lebih memilih berbincang dalam bahasa Inggris sama gw ketimbang pakai bahasa Indonesia yang tidak lancar dia kuasai. Kalau dia pakai Tetum kan gw manyun dong.

Gw sempet ketemu juga dengan salah satu pengunjung pameran. Namanya Gilberto. Dia sekarang polisi Timor Leste. Dulu pas “zaman Indonesia” pun, dia polisi. Kerja sama polisi Indonesia. Kata dia, polisi yang orang Timor dulu nggak dikasih pegang senjata, karena takut membelot. Dan dia mengakui kalau dia jadi polisi untuk bisa menghindari penyiksaan.

Kata dia, dia nggak benci sama Indonesia. Dia mau melihat ke depan saja, tidak perlu lihat ke belakang lain.

Sementara gw mendadak malu jadi orang Indonesia…

Advertisements