Sejatinya gw maha telat nonton film “Burma VJ: Reporting from a closed country”. Maafkan.

Film dokumenter ini sudah dielu-elukan sekantor gw sejak kantor kami kedatangan teman-teman dari DVB alias Democratic Voice of Burma. DVB ini adalah exiled media-nya Burma, yang berbasis di Oslo, Norwegia. Mereka mengirim reporternya secara undercover untuk merekam gambar-gambar dari dalam Burma, saat Saffron Revolution pada September 2007 silam. Gambar-gambar keren dari mereka ini lah yang kemudian dipublikasikan di media internasional dan membuat Burma kembali dalam sorotan setelah 8888 Uprising.

Gw mendapatkan film ini dari Nita, yang punya kopian film ini di hardisk-nya.

Menonton film ini sumpah kebawa deg-degan. Dari khawatir melihat siapa pun yang pakai kamera dicurigai sama militer setempat, sampai kagum terharu ngeliat para monks itu begitu gagah berani dalam revolusi hampir sebulan itu, sampai geleng kepala melihat gimana edannya junta militer Burma.

Gw langsung kebayang-bayang napak tilas ke Shwedagon Pagoda, Maggin monastery serta rute yang dilalui para monk ini ketika revolusi lalu dan menyerap keberanian mereka.. wuih!

Gw menonton film ini sekarang, malam minggu begini, karena persiapan menuju ke sana. Kalau kata Hil,”Bukan pilihan film yang pas buat Sabtu malam ya?” Ya, betul juga sih. Tapi yang lebih tepat adalah bukan pilihan film yang tepat buat gw yang akan ke sana. Uhuk.

Dari gambar-gambar itu keliatan gimana “plainclothes police” ada di mana-mana. Intel nyempil di mana-mana, siap ngangkut orang sewaktu-waktu. Bahwa junta militer sana itu menyerang para monk yang notabene sangat dihormati dong mestinya. Monastery mereka diserbu, monk ditangkepin dan dijadikan tahanan politik dengan masa hukuman puluhan tahun, sampai ada monk yang dibunuh lalu dihanyutkan di sungai. Brrrh.

Jangan lupa. Pasca Saffron Revolution 2007, pemerintah Burma memberlakukan aturan tidak boleh berkumpul lebih dari 5 orang (karena dicurigai bakal revolusi) dan batas jam malam di mana orang gak boleh keluyuran keluar rumah antara jam 9 malam sampai jam 5 pagi. Dan itu tuh tahun 2007 aja gitu! Lima tahun lalu gitu nyet!

Brrh.

Menonton “Burma VJ” adalah menyaksikan keberanian para monk, keuletan jurnalis DVB dan wajah-wajah sumringah warga Burma yang mengharapkan perubahan di negaranya.

Dan itu rasanya sejuta!

***

“Burma VJ,” a documentary about the September 2007 mass uprising in Rangoon that was nominated for an Academy Award, missed out as a film about the secret slaughter of dolphins in a Japanese town titled “The Cove” took the Oscar for Best Documentary Feature of 2010.The narrator of “Burma VJ” Joshua, told The Irrawaddy: “I watched the Oscars live on TV. I thought “The Cove” was very good. But it appears that [in Hollywood] people think dolphins are more important than the killing of Burmese monks and students.” (taken from here)

Advertisements