RGN international airport

Sampai!

Begitu kelar urusan imigrasi, gw langsung keluar menemui Moe Moe, kerabat lama yang tinggal di Rangoon alias RGN. Lucu juga ngeliat dia pakai sarung gitu – pakaian tradisionalnya orang sini. Nyokap gw aja menandai Burma dengan kalimat,”Yang laki-lakinya masih pada pakai sarung itu ya?”

 

Betul aja. Begitu keluar bandara, sebagian besar laki-laki dewasa ya pakai sarung itu. Motifnya ya kotak-kotak. Gw tanya Moe Moe, apa memang wajib pakai sarung ini? Dia bilang sih enggak. Sebenernya gw pengen tanya lagi,”Do you wear anything underneath?”… tapi takut dia tengsin, hihihi.

Begitu sampai di hotel, taro tas, langsung keluar lagi. Ini saatnya melihat RGN di malam hari.

Kami jalan kaki di Maha Bandoola Road menuju tempat makan. “The price is reasonable, and I will pay your dinner,” kata Moe Moe. Hore! Sepanjang jalan, gw seneng liat pemandangan di RGN. I think I’m going to like it here!

Agak chaotic suasananya. Trotoar pada jebol, rawan bikin keserimpet deh. Di depan toko pasti ada aja orang jualan di pinggir jalan. Ada yang jualan DVD, ada yang jualan makanan, ada yang jualan baju. Ramai! Gw tanya sama Moe Moe,”Can they sell The Lady here?” Kata Moe Moe, iya. “But Burmese don’t really like the film,” karena penggambaran Jenderal Aung San, bapaknya Suu Kyi, gak tepat katanya.

Yang seru adalah road side food stall-nya. Semua dengan meja kursi plastik yang ukurannya mini, buat anak-anak gitu. Mungkin buat hemat space ya makanya pakai yang mini-mini gitu, tapi ngeliatnya aja ribet gitu. Wong satu meja bisa dirubung 4 orang dewasa gitu deh. Begitu sampai di resto tempat makan kita, Moe Moe ngajak ke dalam. Gw langsung rikues duduk di kursi mini-mini itu dong, penasaran.

Tempat makan ini ada di wilayah komunitas Muslim, kata Moe Moe. Jalannya sempit, dikelilingi gedung-gedung tinggi yang cenderung kumuh. “They’re apartments. It’s an expensive area.” Ih mosook.. nggak keliatan mewah aja gitu deh. Gedungnya lumayan tinggi-tinggi, tapi ya catnya udah pada jelek gitu. Well, mungkin ini karena malam hari ya *menghibur diri*

Moe Moe yang bertugas pesan makanan, karena menu ada dalam bahasa Burma tok. Yang dia pesan adalah “fried egg the Burmese style” dan “stir vegetables with meat”. Oke. Setelah menunggu gak terlalu lama keluarlah makanan itu. Si fried egg itu adalah telur dadar. Dan kayaknya “Burmese style” adalah minyak bleketek  bareng si telor dadar itu. Slimy banget dah tampilannya. Trus si sayuran ini, adalah capcay.

Aha, feels like home!

* PS: Begitu sesi upload ini mulai, maka gw mulai juga bersyukur sama internet di kantor yang rasanya faster than the speeding bullet dah dibandingkan di sini, uhuk.

Advertisements