Kartu GSM untuk turis

Beberapa hari terakhir ini jalan-jalan di Rangoon bareng Moe Moe, satu hal yang paling gengges adalah Moe Moe ini gak punya handphone.

Dia dulu kasih nomor handphone, tapi ternyata itu punya kakaknya. Untungnya sih itu kakak adek dua-duanya kerja di The Voice – Moe Moe sebagai editor dan kakaknya sebagai proof reader. Jadi paling enggak mereka berdekatan lah lokasinya kalo gw telfon.

Tapi ya tetep aja gak enak kalo tunggu-tungguan. Kalo gw telfon nanyain dia di mana, eh yang angkat kakaknya. Trus kalo mereka lagi gak bareng, giliran gw yang manyun deh.

Selidik punya selidik, ternyata harga SIM card di sini itu mahal. Bayangkan: 250 dollar! Udah sinting. Padahal handset-nya aja itu yang sederhana deh, asal bisa nelfon dan SMS, harganya cukup 30-40 dollar. “But you can’t buy iPhone for 30 dollar for sure,” kata Moe Moe. Ih kalo seharga segitu iPhone di sini mah gw langsung beli deh, haha!

Di hotel, kebetulan ada temen ngobrol yang beberapa tahun lalu pernah ketemu di sebuah acara di Bali, namanya Jeff Rutherford. Dia petani organik di Chiang Mai. Dia cerita panjang lebar soal dia ngapain di Burma sih, tapi gw lupa, hihi. Yang jelas dia udah beberapa kali ke Burma.

Dua-tiga tahun lalu, harga SIM card itu lebih gila-gilaan lagi: 3000 dollar! Masaalooohh ini negara super edan! Mosok SIM card harganya segitu! Pas gw cerita ini sama Moe Moe dia bilang,”I think he’s been cheated – two years ago the SIM card could cost you 1800 dollar.” Yeeee tetep aja mahal gilaaaaa..

kalo mereka cellphone-nya serius-serius 🙂

Baru belakangan ini harganya lebih murah, itu pun ya kisaran 250-300 dollar. Gila banget yak. Coba ini bandingkan dengan SIM card di Jakarta yang 10 ribu juga ada kali. Atau di Chiang Mai yang SIM card ditawarin gratis di bandara.

Nah SIM card yang gw pakai ini khusus turis. Harganya 25 dolar. Tetep ya bo mahal. SIM card ini berlaku selama sebulan. Trus gak bisa di-top up alias isi ulang. Nah kalo keabisan pulsa gimana? Si bapak penjual senyum manis. Jadi ini ya artinya kalo 20 dollar ini abis, ya mesti beli SIM card baru. Iiihh edyaaaannn.

Dengan mahalnya urusan telfon-telfonan, itu dia sebabnya di penjuru Rangoon ini banyak banget public phone. Dan public phone ini ya punya warga aja gitu, di warung-warung ada, di pojok jalanan ada. Ada stall yang punya 3-4 telfon, ada juga yang punya satu biji doang. Telfonnya ya model telfon rumah gitu, tapi kayaknya dikasi SIM card gitu, karena ada juga yang tanpa kabel yang bergelantungan ke mana pun.

Negara ini emang ajaib 🙂

Advertisements