Shwedagon Pagoda

Negeri ini emang membingungkan. Ada yang menyebutnya Myanmar, ada juga yang menyebutnya Burma.

Setau gw, Myanmar itu adalah nama pemberian militer. Secara kantor gw tentu gak setuju sama junta militer dong, makanya kalo ada berita dari sini, kami menulisnya dengan ‘Burma’, dan bukan ‘Myanmar’. Ceritanya kan keberpihakan gituh.

Little Burmese boy with thanaka on his cheek

Gw pernah nemu tulisan soal ini dari websitenya NPR. Ternyata ini juga sesuatu yang suka bikin bingung banyak media. Kadang mereka nulisnya lengkap, misalnya,”Yangon, which was formerly known as Rangoon.” Tapi kan sebenernya ini jadi gak efektif, buang-buang kalimat gitu.

Gw tanya sama Moe Moe, dia sendiri sebetulnya prefer mana. Ternyata dia pilih ‘Myanmar’. Tentu ini bukan karena dia pro-militer, secara dia juga pernah masuk penjara dua bulan gitu. Tapi lebih karena menghindarkan kesamaan menyebut ‘Burmese’ untuk orang ‘Burma’, dengan etnis mayoritas di sana, yaitu etnis Burmese atau Bamar (seperti tertera di Lonely Planet).

Soalnya sebagai etnis mayoritas, Burmese seringkali dianggap elit, berbeda kelas dengan etnis lainnya di Burma, semisal Shan, Kachin, Mon dan sebagainya. Karena itu Moe Moe lebih pilih menyebut “I’m Burmese, from Myanmar. I’m Kachin, from Myanmar.”

Well, ada betulnya juga. Tapi gw jadi penasaran, kalau Suu Kyi merujuk nama negaranya sendiri apa ya? Burma atau Myanmar? Kita ikut Daw Suu aja deh 🙂

Advertisements