Taksi di Rangon tampilannya rata-rata seperti ini: mobil tua.

Mirip President Taksi di Jakarta jaman dulu lah, ketika taksi-taksi ini masih berjaya dan terawat. Tapi ini pun udah keren banget dibandingkan taksi-taksi lainnya di Rangoon. Paling enggak yang itu terawat, meski tampak mogok ya 🙂 Kalo kebanyakan taksi yang lain itu kira-kira seperti President Taksi tapi dua kali lebih jelek, hoho.

Mengapa? Karena tampilan dalamnya seperti ini.

Dan seperti ini.

Well ada juga sih yang tampilannya bukan mobil tua. Lebih trendi. Dan itu pasti adalah mobil Chery QQ buatan Cina. Pantesan aja Amrik was-was Burma jatoh ke Cina, lah cengkramannya udah di dalam negeri toh yo..

Taksi-taksi di sini kebanyakan gak pakai argo. Satu-satunya taksi yang berplang “meter taxi” adalah taksi yang membawa gw ke bandara. Itu pun argonya tetep aja gak jalan. Karena gak pakai argo, maka harga ditentukan dengan cara menawar.

Rata-rata harga yang disebut pertama adalah 2000 kyat alias $2. Kalau tau jalan dan arah ya bisa nawar. Tampang gw sebetulnya kayak warga lokal, tapi begitu gw buka mulut, dia langsung tau dong kalau gw bisa dikadalin. Jadi lebih sering gw serahkan urusan nawar ini ke Moe Moe.

Makanya gw setuju ketika si pemilik hotel ini bilang kalau infrastruktur pariwisata di Burma harus diberesin segera seiring dengan situasi politik yang berubah, yang otomatis ikut mendatangkan makin banyak turis masuk. Hal pertama yang dia sebut adalah taksi. “Well you see the quality of our taxi right?”

Tebuuuull..

Advertisements