Bus di depan city hall

Sejauh mata memandang, kebanyakan mobil dan bis di sini ya mobil-bis tua. Bis-bis di sini itu seperti bis di Jakarta jaman gw SD dulu, yang kalo sekarang pasti udah ringsek dan rongsok. Tapi di sini ya semuanya masih dipakai.

Bus-bus di sini pada ngebut edan semua. Nyebrang di zebra cross kuning di sini ya juga tetep mesti ati-ati karena kayaknya bus pada cuek.

Tentu saja ada halte bus di sini. Di beberapa tempat, halte bus-nya keliatan seperti halte bus. Paling enggak dengan cat yang agak distinctive. Tapi ada juga yang gak ketara tampak seperti halte. Yah mungkin sebetulnya ada plang-nya ya, tapi pan semuanya pakai font Burmese 🙂

Bus di sini ada yang ukurannya seperti bus Mayasari Bakti di sini, ada juga yang ukurannya lebih kecil sedikit dengan moncong di bagian depan. Ada juga yang bentuknya kayak angkot, pintunya di samping pakai pagar gitu. Nah ini gw lupa nanya namanya apa.

Gw hanya tiga kali naik bus – dua kali itu ketika dalam perjalanan menuju ke Hmaw-Bi Township untuk ketemu Ashin Pyinnyar Thiha. Jauh bo, 2 jam perjalanan. Bayarnya 800 kyat kalau nggak salah. Ini kayaknya udah itungan bus semi-luar kota gitu secara jauh. Sementara bis di dalam kota aja paling 100-200 kyat.

Petugas di dalam bus ada tiga: supir, kondektur dan tukang teriak rute di luar. Si kondektur ini tampaknya sih pakai seragam ya, meski berpadu dengan celana pendek rombeng jadi agak ngebingungin hahaha. Dia inilah yang keliling untuk mintain duit.

Isi CNG dulu..

Yang unik dari naik bus di sini adalah… mesti turun kalau ngisi bensin. Eh, isi CNG deng. Heiyaaa, kayak naik motor aja! Ketika gw tanya sama Moe Moe, kenapa begini? Kata dia,”It’s just the regulation.” Gw gak percaya dong. Lah masa aneh banget ada aturan resmi alias formal kayak gitu. Trus dia menambahkan,”That’s what I know all this time,” kata dia sambil ketawa.

Selain itu, di dalam bus, di tiang pegangan dekat pintu keluar (pintu keluar hanya satu di bagian tengah), ada cantelan kantong plastik. Kantong plastik baru gitu, banyak gitu segambreng. Mengapakah? Katanya buat penumpang yang mabok darat trus pengen muntah. Atau buat mereka yang doyan ngunyah betel leaf alias daun sirih – kedoyanan orang di sini. Hohoho baik sekali ya nyediain plastik 🙂

Big brother

Di dalam bus, orang juga gak ragu pasang foto Aung San Suu Kyi atau Jendral Aung San. Bus yang gw naikin kebetulan pasang foto Jendral Aung San di kaca bagian belakang supir. Moe Moe nunjuk ke sana sambil bilang,”Watch out, big brother is watching you.” 🙂

Advertisements