Isi freezer pas jaman Senja mulai MPASI, sekitar tahun 2008.

Isi freezer pas jaman Senja mulai MPASI, sekitar tahun 2008.

Iseng-iseng liat timeline, ternyata belum lama ini temen gw ngetwit butuh donor ASI. Dih, dogol banget sih gw gak ngeh pas temen kesusahan. Si kawan ini ngetwit dengan format khas permintaan donor ASI; dengan menyertakan jenis kelamin dan agama si bayi.

Dan ini pun kembali memicu pertanyaan-pertanyaan yang sejak lama ada di kepala gw soal donor ASI. 

Yang perlu ditegaskan di awal adalah gw itu pendukung ASI. By heart, to the bones. Gw dulu juga kasih ASI – dengan susah payah – ke Senja sampai dia umur 1 tahun. Gw bukan perempuan “beruntung” yang stok ASI-nya melimpah, tapi dengan tekad baja dan dukungan dari Hil, gw bisa terus ngasih ASI ke Senja.

Nah tapi soal donor ASI ini emang masih suka berasa ganjel. Ini tentu bukan karena gw nggak setuju konsep donor ASI lho ya. Gw super dukung konsep ini, karena gw percaya ASI tak terbandingkan dengan sufor semahal apa pun. Apalagi ibunya Hil pun juga adalah ibu susu banyak anak. Jadi konsep ini nggak asing buat gw lah.

Tapi ya menurut gw masih ada yang ganjel soal donor ASI; yaitu aspek kesehatannya. Kemungkinan besar kekhawatiran ini bermula karena gw adalah seorang yang berpenyakit thalasemia – yang adalah penyakit genetik. Dan sepengetahuan gw sih ASI, seperti juga darah dan cairan dari alat kelamin, mestinya juga jadi jalur transportasi si penyakit itu. Nah kalau gw mendonorkan ASI gw, apakah gw bakal “menyalurkan” penyakit thalasemia itu lewat ASI gw ke anak lain? Dan dari pemikiran itu juga, kalau anak gw menerima donor ASI dari orang yang punya penyakit atau kelainan genetik, apakah akan masuk ke anak gw juga?

Beberapa tahun lalu gw pernah baca tentang sebuah desa idiot di Jawa Timur. Setelah ditelusuri, ternyata penyebab satu desa itu penduduknya pada idiot semua adalah karena warganya pada kawin dengan sesama. Jadi si gen idiot itu ya berputar-putar saja dari satu warga ke warga lain di satu desa yang sama. Alhasil, satu desa itu pada idiot semua deh.

donor-ASIApakah logika yang sama bisa dipakai juga di soal donor ASI ini?

Kalo menurut gw kok iya ya. Karena itu gw merasa data kesehatan si ortu, terutama ibu, adalah yang paling krusial untuk urusan donor ASI. Itu harusnya jadi garda terdepan, kira-kira gitu.

Itu juga yang bikin gw merasa ganjil dengan info-info yang disandingkan dengan permohonan donor ASI. Melulu jenis kelamin dan agama. Gw rasanya kok nggak pernah menemukan info kayak gini: “Saya siap jadi donor ASI, tapi saya thalasemia, masih ada yang mau nggak?”

Ketika gw me-mention @AyahASI_Jakarta soal ini, gw langsung dapat jawaban *trims yo* Katanya, ini untuk menghindari nikah dengan saudara sepersusuan – seperti yang dilarang dalam agama Islam. Hm… oke.. Berarti gw nggak mau Senja kawin dengan anak perempuan yang jadi penerima donor ASI gw, gitu kan ya?

Let’s say gw adalah produsen ASI kelas kakap yang mendonorkan ke banyak anak. Nah berarti gw harus nyatetin nama ortu-ortunya dong ya? Lalu pas Senja pacaran, gw mesti langsung inspeksi nama ortu si pacarnya Senja, lalu nyocokin dengan daftar ortu yang menerima donor gw. Kan ceritanya antisipatif. Gitu? Wah ribet yak 🙂

Gw merasa donor ASI itu mesti diperlakukan seperti donor darah. Harus ada screening, harus ada data kesehatan yang jelas. Kalau mau donor darah kan ada penjelasan kalau yang HIV dilarang transfusi. Gw pun, seperti kata nyokap, nggak boleh donor darah karena gw thalasemia. Alasan praktisnya adalah begini: wong produksi darah buat diri sendiri ada terseok-seok, mosok ngasih ke orang. Dan inilah yang terpatri di benak gw sepanjang hidup gw, hehe.

Di sini dan di sini ada artikel soal donor ASI dan aspek kesehatannya. Tapi yaaa bisa aja ini lantaran gw yang super recet yaak.. Kalau si ibu itu HIV positif, seberapa banyak sih yang tau soal metode flash heating? Adakah lembaga yang bisa kasih info soal ini? Lantas Hep B & C bisa “menular” lewat ASI kalau di ASI itu terkontaminasi darah. Nah dari mana kita bisa memastikan itu? Ditambah lagi, bagaimana kalau si ibu donor ASI itu nggak tau kalau dia punya Hep B & C?

Well, sebenernya sih masa ASI Senja udah lewat… masa penuh perjuangan dan tetes air mata itu. Jangan-jangan gw emang harus desperado butuh donor ASI dulu untuk nggak ambil pusing dengan aspek kesehatan ini (errr… ). Eh nggak tau deh huhuhu.

Yang jelas sih ini nggak pernah melunturkan sikap dasar gw: percaya pada NKRI. Eh, bukan, maksudnya percaya bahwa ASI adalah yang terbaik. Dan gw mendukung segala cara, kebijakan, dukungan atau apa pun supaya ibu bisa memberikan ASI kepada bayinya.

Mungkin sebaiknya gw nunggu matahari terbit dan nanya soal ini kepada nyokap: sebagai “pemberi” thalasesmia (love you!) dan dokter 🙂

Oya, dokumenter soal donor ASI ada di sini, nonton yuk! 

Advertisements