To click or not to click.

To click or not to click.

Di acara #BBCIndonesia65 gw ketemu kawan lama yang kini bekerja di sebuah media online beken dan besar. Lalu kami berbincang tentang berita yang muncul di media online. Bahwa kata kunci seks itu sangat laku di media online mana pun – baik yang terkenal cupu maupun yang sebetulnya punya latar bekalang jurnalistik yang baik.

“Gw itu spesialis nulis berita yang aneh-aneh gitu deh,” kata kawan gw itu. Dan dia sudah membuktikan berkali-kali bahwa berita seks itu selalu laris – jauh lebih laris dibandingkan berita nasional atau politik yang nota bene seharusnya dilihat sebagai berita penting.

Salah satu berita yang dia bikin misalnya tentang seorang perempuan telanjang, yang membuat lalu lintas kacau dan mobil-mobil tabrakan. Apakah berita tersebut memenuhi pakem-pakem nilai berita yang dipelajari sejak kuliah? Rasanya cuma satu yang dipenuhi, yaitu unik.

Dia mengakui juga kalau berita itu ‘bodoh’ dan ‘nggak penting’. “Tapi rezim yang kita hadapi sekarang adalah klik. Sama seperti rating di TV,” kata dia lagi. Gw mengangguk setuju. Kenyataannya memang begitu.

Lalu si kawan ini merujuk ke BBC yang lagi ulang tahun ke-65. “Ya kalau BBC kan enak, nggak perlu mikirin untung. Kita kan harus pikirkan untung,” kata dia lagi. Bukan membela diri, mestinya, tapi ya itulah kenyataan.

Si kawan ini mengaku pernah juga mengajukan project berita yang lebih serius, yang mengagungkan pakem-pakem yang selama ini dipelajari sebagai wartawan deh. Lalu bosnya bertanya,”Ini nanti banyak yang klik atau nggak?”

Hmmm…

Seorang kawan lain lagi beberapa waktu lalu punya cerita mirip. “Kalau si editor tahu kalau berita ini bombastis, nggak penting, semata-mata soal seks, ya dia tutup mata aja dulu, lalu klik “publish”,” kata dia sambil tersenyum. Artinya, sebetulnya ada kesadaran di pihak si jurnalis kalau yang dia lakukan adalah pembodohan publik. Tapi in the name of profit, ya sudah lah.

Hampir pasti, pemikiran ini ada di media online mana pun. Berita yang dibikin belum tentu dibaca. Kalaupun dibaca, maka itu sangat ditentukan oleh judul yang kita bikin. Dan itu mengakibatkan judul sering tidak sesuai isi berita. Ya demi diklik. Perkara pembaca kecewa atau mungkin jadi bodoh, itu urusan lain.

Jika ini terus dilakukan oleh semua media online, kita secara sadar menciptakan lingkaran setan. Lingkaran setan yang sudah dijalani TV seumur hidupnya. Ketika sebuah program/berita diadakan karena ratingnya bagus. Dan jika berita/program itu bodoh tapi ratingnya bagus, ya terusin saja. Dan setelah lingkaran setan itu terjadi, sudah hadir pula ratusan survei, penelitian atau apa pun yang menyebutkan kalau isi TV itu membodohi publik. At some point of the life of online media, ya akan terjerembab seperti TV juga: melakukan pembodohan.

And that would be horrible.

Di sisi lain, apa iya  publiknya memang maunya yang gampang-gampang dan bodoh itu? Gw pernah ngobrol sama mahasiswa yang sempet magang di kantor gw untuk bertanya gimana umumnya anak muda mengkonsumsi berita dan media. Dia menjelaskan begini: “Kita sih baca lewat Twitter aja. Kita biasanya baca berita kalau ada meme-nya. Dan itu ya hanya baca meme-nya, belum tentu baca beritanya.”

Hmm.. jadi ini siapa membodohi siapa ya?

Stay sane everyone #notetoself

Advertisements